catatan enam sahabat

Posted: Desember 9, 2010 in ocehanitas
Tag:

Perjalanan ini diawali dengan ketidaksengajaan sebuah ajakan. Harapan menemukan sebuah udara segar yang lalu lalang di puncak pangrango. Namun, perjalanan yang diikuti enam orang teman ini hanya menemukan kabut, yah kabut yang tidak bisa disentuh dan hanya bisa dirasakan, itupun plus hujan.

Enam orang yang melakukan perjalan ini adalah saya, edoardo, rizal “tigor” cobre, aris “buron”, Ical “ucil”, dan friant situmorang. Harusnya ada tambahan dua orang lagi, yakni bayu dan kawannya,  tapi selanjutnya kita panggil bayu itu setan. Karena teman saya yang satu ini terlalu jago untuk menghasut orang. Jika merunut kata primbon jawa, dia cocoknya jadi tukang obat. Sekali bicara dua tiga obat terjual.

Back to the journey, kita berangkat sekitar pukul satu siang dari cisarua, karena usai bermalam (yang katanya) acara relationship di jurusan kita. Sekedar numpang ngopi dan bermain judi bersama abang-abang senior yang sudah sukses (insya Allah) dunia dan akhirat. Perjalanan lancar karena ada one way dari arah Jakarta ke puncak, dan untuk antisipasi, tungganggan edoardo butuh minum pertamax (maklum motor baru bos).

Dalam perjalanan, tuhan saya dan tuhan mayoritas orang didunia ini memberikan kita sedikit ujian. Ujian ini berbentuk seekor oknum aparat rakus. Motor ical yang santai namun pasti mendadak diberhentikan hanya karena lampu depan tidak menyala dan menurut panduan bapak polisi itu berharga Rp.100.000,00 pas. Tapi apa yang tidak mungkin di Negara yang cinta damai ini, terbukti damai itu murah karena hanya 22 ribu (dengan susunan cebanan satu, gocengan satu, dua ribuan dua, dan pecahan seribuan tiga).

Akhirnya sampailah kita ke puncak, dengan tiket goceng per motor, kita parkir di warung BU Le. Setelah itu hasrat ingin menaklukan air terjun cibereum terpaksa pupus. Bukan karena tidak punya uang tapi waktu jua yang memisahkan kita, nyampe gerbang udah jam 3 bos. Heu’…

Dua botol yang sangat hijau menemani kita ditengah hujan dan udara dingin yang menggigit, terpaksa kita minum diwarung BU lee,

“Anjiing ni Bayu, ngajak aja tapi pura-pura tasnya ketinggalan”, ujar Friant

“yaudahlah, mang doi mah tukang obat, ngomong doing”, kata saya

“mendingan kita ke pulau tidung tapi rame-rame, bosen gw laki-laki mulu”,gagas cobre.

Percakapan hangat ini membuat kita terlarut hingga pukul enam sore, tapi memang diselingi dengan belanja topi lucu buat Friant , celana bermotif batik buat ical imut. Dan gorengan daun bayam yang dibeli cobre.

Tapi kemana buron?

ternyata dia tidur pulas dibelakang warung Bu Le. Mungkin dia lelah kali abis ditilang polisi. Kita pun pulang dengan riang dan sampai kampus sekitar jam 09.30 P.M. (Ssstt, ban edo bocor di kejaksaan).

Hahahahaha keep going LIMBAT.

meneliti Mimpi penjudi

Posted: November 14, 2010 in ocehanitas

“Dunia, mimpi yang dinikmati bersama;

Mimpi, dunia yang dinikmati sendirin,” – ( Titik Ba, Thoha Faz )

 

“gw polo-polo “, ujar bajuri salah seorang mahasiswa manajemen 2007.

taee,  polo kowai lu “, timpal Bayu.

berarti gw yang menang, tiga per nyerucus…..“, ujar saya tak mau ketinggalan.

 

permainan diatas adalah permainan tiga belas kartu dengan tiga belas kemungkinan menang maupun kalah. sehingga ga salah kalo hari ini saya menang 40 ribu, bsk bisa kalah 70 ribu. heu’, judi.judi.judi,.. (teett..)

 

sebenarnya, saya sedang melarikan diri dari sebuah rutinitas yang bertolak belakang dengan maen judi. katakan saja kegiatan saya itu mencari kebenaran (werrr…kaya betmen ). sepanjang saya mencari kebeneran ada bisikan yang mengatakan,

enakan jadi orang yang kaga peduli jadi kaga ada beban….”

“ngapain ngurusin orang, ngurus diri aja kaga benerr…”

 

dua bisikan itulah yang ngebuat saya beranjak dari singasana saya menuju lantai 2 ged. B di PTS terkenal di JKT (hahaiii), ternyata bener dan banyak hal yang membuat saya kaget bukan kepalang.

mungkin saya orang pertama yang ngebocorin hal ini, tau ga, turn over eh perputarannya bisa ampe 3 juta per lapak tiap malem, belum ama barang-barang non liquid kaya hape and modem yang bisa pindah tangan tanpa malu-malu. mantap dah tuh kampus.

 

sebenernya sih, kaum pejudi bukannya tidak perduli…

 

tapi mereka bosan dengan kebohongan dan retorika yang dibuat sesama mahasiswa yang ada di lembaga. coba perjuangain anti korupsi tapi mereka coba nge-potek (ngambil ) dikit-dikit duit lembaga. ahhhhh, jadi ngomongin orang kan tuh..

realitas seperti di kampus sebenernya bisa dipahami kaloo kita bisa mengurainya meenjadi sebuah pelajaran hidup, karena realitas hanya akan lewat tanpa memberi makna apa-apa jika kita sendiri tidak siap akan hal tsb.

 

alhasil, observasi saya menyimpulkan bahwa para pejudi, pemabuk dan pemadat di kampus tsb bukan orang gagal atau bodoh, tapi mereka bosan dengan realitas yang dianggap sama saja, mereka menganggap datar semua teriakan-teriakan revolusi semu yang dikumandangkan oleh para kaum munafik.

 

mereka bukan tidak perduliii,..

tapi,.

mereka bosan.

bosan dengan kurikulum yang belum tepat buat mereka.

bosan karena ga ada masalah yang tak dapat teratasi oleh materi,akhirnya mereka berjudi berharap dapat materi dari sebuah ironi.

Merasa Pintar atau Pintar Merasa

Posted: Februari 25, 2010 in 1
Porong, (9/02/10). Ketika perasaan b’bentur dgn kebutuhan, mana yg lebih dipilih? Aku t’sentak melihat kenyamanan bau gas yg bercampur merkuri khas porong. Terlalu wangi penderitaan batin mereka yg tergusur dr rumah sendiri, Terenggut masa lalunya dan terbajak masa depan para generasi suram.

Tak sanggup,
tapi tak sedih..

Sudah habis sepertinya perasaan mereka, atau terlalu bosan dgn kebohongan mereka.

“….Hahahaha…”

“kalian kan sudah pinter, jangan habiskan waktu dgn perasaan mendayu kalian. Sudah nasib mereka utk mengapung. Sama seperti lumpur yg aku gali “, ujar batin penguasa pda kaum pelajar.

BUANG WAKTU…”,

“pendidikan memang seperti itu, formal tp kerdil”, lanjutnya.

“Kepintaran kalian sbg mahasiswa,terlalu mahal utk diberikan pada mereka, anak lumpur !!
Selesaikan kuliah kalian, dan kerjalah pada kantorku sbg staf”, bisik rayu metropolitan.

“kalian akan merasakan hebatnya belenggu kebebasan, kepedulian sesama, dan kekayaan alam”, tambah sabda sang televisi.

“kalian hanya akan melihat simulasi sosial yg aku ciptakan, dromologi isu. Sehingga kalian akan lupa pada nasib anak lumpur porong, pendidikan, hidup dan masa depan mereka”, gumam televisi lagi.

“Wahai para kaum intelektual, TERUSLAH MERASA PINTAR, tanpa harus PINTAR MERASA. Karena kalian akan merasa miris ketika melihat realita sebenarnya”, tukas penguasa, metropolitan dan televisi bersamaan.

tahun Baru di Kunciran

Posted: Januari 6, 2010 in ocehanitas

mungkin agak telat, ketika saya menuliskan pengalaman saya di malam tahun baru tapi tak apalah…

malam tahun baru saya sebenarnya kelabu. kelabu yang dalam bahassa indonesia berarti tidak punya warna yang dominan, berlaku buat saya. memang tidak punya warna karena tidak punya rencana yang pasti….hahaiiii

mendekati magrib ditahun baru, pikiran saya masih melayang, kalo bahsa ekonominya yah floating dech. perlahan tapi pasti, saya mencari tuhan saya diwaktu magrib. mushola Baitusssalam di gedong Panjang menjadi saksi ketaatan saya pada tuhan, setelah itu baca yassin dan dilanjutkan issya berjamaah. itung-itung menutup tahun dengan khusnul khotimah, karena selama ini jarang sekali saya berani mendekati tuhan saya….hehe

Pkl. 21.00, saya telp kawan sejurusan, namanya topik saleh, meskipun kenyataannya orangnya Tidak sesaleh namanya, mungkin nanti saya tulis secara khusus. singkat cerita, sampailah di rumah topik  di daerah Cipondoh Makmur. loba-lobi, telepon sana-sini, akhirnya yang berhasil ngajak jalan  satu orang, yaitu DAME. kawan saya yang berambut gondrong tak terawat, berwajah kejam tapi tak sangar.

setelah berunding cukup lama, akhirnya kita bertiga memutuskan buat kerumah Agus Sutrisno, manusia keturunan jawa yang bertempat tinggal di Kunciran, daerah yang ada di lurusan pasar bengkok, masih daerah tanggerang pinggiran. tujuan saya, memang dirasa cukup masuk akal, karena si Agus ini punya tempat yang lumayan buat kita membunuh waktu di malam tahun baru. tempat cuci Steam dengan tiga kamar yang dekat dengan warung.

“gimana nih mad, si agusnya ga ada lagi”, ujar topik yang tak saleh. ucapan yang dilontarkan topik lima menit sebelum countdown, membuat saya dan dame tambah runyem. runyem karena nyesel, runyem karena ga tau mau kemana lagi. di telepon lah si agus yang ternyata ada d BSD Serpong, katanya lagi ngeliat kembang api. heu’, ksel rasanya…

“Jger,JGErrr, Jgererr….”, suara kembang api di komplek kunciran. kembang api yang tidak terlalu rame tapi cukup menghibur. menghibur orang selain kita bertiga, menghibur anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, para mas-mas jamed dan mabak-mbak metal. “gw bilang apa mAD”, sela dame pada kuping saya.

kekesalan kami bertiga, dituangkan dalam minuman yang menyegarkan, minuman yang kita tuangkan di pojok bengkel tambel ban yang ga terlalu jauh dari tempatnya agus .

” pokoknya gw pengen taon ini, jadi taonnya gw”, harapan topik tersembul keluar dari mulutnya.

“taon kaya giman pik”,tanya dame.

“pake nanya lagi, dasar kusut” ,marah topik

. hahaha, saya tertawa melihat dagelan dua orang manusia purba ini. maklum mereka saling kesel karena minuman menyegarkan udah nyempil diantara otak-otak mereka.

“mad,mad, agus dateng noh….” ,  girang dame.

Akhirnya bos Steam dateng juga sambil bawa terompet yang harganya 2000 perak, katanya boleh hasil nawar ama tukang terompet di BSD. singkat tulisan, yang punya lapak ( agus) nyruh anak buahnya buat bakar ayam yang udah disiapin.

” kita maen gaple aja nih” , ujar agus.

dia ngajakin kita maen kartu yang bergambar totol-totol merah, di dalem rumahnya.

gaple, ayam bakar, dan minuman meneyegarkan, akhirnya ngebuat kita terlena samapi pkl 05.00 pagi. ” gw nyerah boy” , ujar saya. akhirnya tidur di kasur satu-satunya di tempat itu. malem taon baru saya dilewati bersama tiga teman sehati, seiya, dan segelas. tahanks topik yang tak saleh, dame yang kusut, dan agus atas tempatnya. semoga taon depan kita bisa melewatkan malem pergantian taon bersama kawan-kawan kita di LIMBAT (Lintas Manajemn Bawah Tanah ). o ya, thx buat mp3 steam yang ngeputerin lagu dangdut buat kita berempat,  yang ngilangin rasa bete di malam tak terencana ini.

TULISAN MISKIN MAKNA

Posted: Desember 31, 2009 in realifuck

“ Tidak akan ada progress jika tidak ada perubahan dalam pergerakan”, – (ras muhammaad)

Ras Muhammad berhasil menyisipkan sebuah pesan tentang sebuah proses kehidupan. Mungkin agak jauh dan terkesan hiperbolis jika saya memakai penggalan lagu musik reggae ini untuk pembuka sebuah tulisan kontemplatif, karena aslinya lagu ini lebih banyak bercerita tentang kehidupan aliran musik reggae. Tapi saya pikir, bukan masalah besar untuk diperdebatkan ditulisan ini..

Penggalan lagu yang ada diatas, bukan hanya menyelipkan pesan motivasi, namun lebih pada sebuah kata, BERGERAK. Bergerak menjadi lebih bagus, lebih indah, lebih rapih, dan berjuta pergerakan lainnya.

Gerakan yang berarti berpacu dengan kecepatan yang dilumuri oli ketidakpuasan abadi umat manusia. Pernahkah kita berpikir tentang miskinnya kontemplasi kita terhadap realita. Yasraf amir Pilliang dalam bukunya “Dunia yang dilipat”, menjelaskan bahwa ilmu yang berkembang dewasa ini adalah ilmu sirkuit balap. Maksimum kecepatan – minimum kedalaman, maksimal perputaran – minimum perenungan, maksimum ekstasi – minimum kontemplasi, maksimum ritual – minimum spiritual.

Meskipun banyak tagline berupa, renungan akhir tahun, dzikir bersama ust. Ini, indonesia menangis, damai akhir tahun, dan beraneka ragam ritual renungan seremonial lainnya. Namun jika selepas itu kita tidak membawa renungan itu dalam setiap gerakan hidup kita. Apalah artinya itu semua? Ironis , jika suatu renungan hanya berupa foto dan koleksi wacana pribadi untuk menaikkan prestisitas kegiatan kita, yang akan selalu kita bicarakan kesemua orang.

Pernahkah kita merenungkan hasil renungan kita ditahun lalu? Aspek mana yang mendominasi pencapaian kita. Rutinitas yang dikendalikan atau mengendalikan, dibentuk atau membentuk diri kita Tulisan yang sangat tidak jelas ini, hanya ingin melihat sebuah praktek dari suatu pergulatan ilmu dan simulasi sosial yang diajarkan televisi dan media lainnya. Kehidupan yang seharusnya saling membantu, mengingatkan dan menjaga, sudah kehilangan bentuknya. Membudidayakan individualistis dan menternak egoistis menjelma menjadi sebuah panduan hidup manusia sekarang, “Laissez Faire” (biarkan orang bertindak sendiri).

Bayangkan jika sebuah hubungan sosial diartikan sama dengan kontrak sosial. Hubungan pertemanan yang akan habis waktunya, ketika kita sudah beda tempat, waktu, maupun kesibukan. Hubungan emosional yang dijalin dengan sangat mendalam, namun hancur oleh sebuah kecepatan. Kecepatan sebuah waktu, yang memaksa orang untuk mencari simbol prestisitas lainnya, menggali tanda kebesaran yang tanpa disadarinya, lubang yang digalinya akan memendam tanda dan hubungan yang telah dibinanya selama ini.

Setahun, saya rasa waktu yang cukup lama bagi manusia saat ini, mengingat bangsa manusia telah distandarisasi hidup dengan 63 kali tahun baru (menurut agama islam–mengacu pada umur nabi Muhammad SAW(nabi Terakhir Umat Islam )). Waktu yang cukup untuk kita saling berpikir kembali tentang makna cinta, makna pertemanan, dan makna sebuah organisasi. Apakah kita telah berhasil mengartikan semuanya, mencoba untuk mengenggamnya, atau mencoba untuk melepasnya.

Kebutaan makna tidak hanya terjadi pada manusia biasa, pun bisa terjadi pada mahasiswa yang mengaku idealis, hedonis, humoris dan –is lainnya. Buktikan bahwa kita adalah mahasiswa, yang (kata orang) agen perubahan, perburuan tanda dan simbol harus diiringi dengan moral dan kepedulian sesama. Ironis, ketika segumpal darah mahasiswa telah dikotori dengan senoktah keegoisan. Bahaya, ketika kita semua terjebak dalam kehidupan temporalitas, yang lebih senang menggarap simbol tanpa meninggalkan sebuah tanggung jawab moral. Makna tentang perubahan dalam pergerakan yang menghasilkan progresitas, benar-benar harus dipahami, diresapi, direnungkan.

stress pemecah kesunyian hidup

Posted: Desember 30, 2009 in 1
Tag:

huff, ketika stress melanda manusia di dalam hidupnya. manusia akan merasakan riak yang berarti dalam simbol hidupnya. stress merupakan penyakit yang ingin dijauhi para manusia pemuja kehidupan cepat.
kehidupan yang kita jalani selama setahun ini, merupakan refleksi. yang belum pernah stress skala berat, saya cuma menganjurkan kepada kawan-kawan, carilah kegiatan yang membuat teman-teman stress karena itu akan membawa satu point hidup anda akan berubah. ketika tenaga anda dikuras, ketika otak anda dipaksa berputar lebih cepat atau bahkan ketika anda berada dalam dilemma pilihan. yakinilah bahwa itu merupakan proses hidup.
ini tulisan pertama saya, tulisan yang saya anggap pertama karena bagaimanapun tulisan ini merupakan penyadaran bagi saya. penyadaran akan pentingnya menulis, penyadaran bahwa untuk menjaga masa lalu saya tidak terbuang sia-sia,. seperti pramudya ananta tour yang berkata bahawa manusi itu harus menulis atau dia akan tertelan dalam pusaran zaman. tulisan ini bukan bermaksud untuk eksis dalam jagad jembar tapi saya yakin tulisan itu dapat membuat orang tetap tersadar bahwa mereka pernah hidup di zaman yang lewat.
bagi para pemuja kodok, salam krookz dari mamad

parahnya kondisi mental organisasi menduduki siaga satu. gimana ga ??
coba kita tanya ama temen n ade” kelas kita, tentang pentingnya organisasi? pasti jawabannya “ga minat”,. oleh karena itu tolong bagi teman” yang baca tulisan ini dapt nularin pentingnya organisasi buat diri.
jangan mau kembali menjadi bangsa yang kuper !!!