Perjalanan ini diawali dengan ketidaksengajaan sebuah ajakan. Harapan menemukan sebuah udara segar yang lalu lalang di puncak pangrango. Namun, perjalanan yang diikuti enam orang teman ini hanya menemukan kabut, yah kabut yang tidak bisa disentuh dan hanya bisa dirasakan, itupun plus hujan.
Enam orang yang melakukan perjalan ini adalah saya, edoardo, rizal “tigor” cobre, aris “buron”, Ical “ucil”, dan friant situmorang. Harusnya ada tambahan dua orang lagi, yakni bayu dan kawannya, tapi selanjutnya kita panggil bayu itu setan. Karena teman saya yang satu ini terlalu jago untuk menghasut orang. Jika merunut kata primbon jawa, dia cocoknya jadi tukang obat. Sekali bicara dua tiga obat terjual.
Back to the journey, kita berangkat sekitar pukul satu siang dari cisarua, karena usai bermalam (yang katanya) acara relationship di jurusan kita. Sekedar numpang ngopi dan bermain judi bersama abang-abang senior yang sudah sukses (insya Allah) dunia dan akhirat. Perjalanan lancar karena ada one way dari arah Jakarta ke puncak, dan untuk antisipasi, tungganggan edoardo butuh minum pertamax (maklum motor baru bos).
Dalam perjalanan, tuhan saya dan tuhan mayoritas orang didunia ini memberikan kita sedikit ujian. Ujian ini berbentuk seekor oknum aparat rakus. Motor ical yang santai namun pasti mendadak diberhentikan hanya karena lampu depan tidak menyala dan menurut panduan bapak polisi itu berharga Rp.100.000,00 pas. Tapi apa yang tidak mungkin di Negara yang cinta damai ini, terbukti damai itu murah karena hanya 22 ribu (dengan susunan cebanan satu, gocengan satu, dua ribuan dua, dan pecahan seribuan tiga).
Akhirnya sampailah kita ke puncak, dengan tiket goceng per motor, kita parkir di warung BU Le. Setelah itu hasrat ingin menaklukan air terjun cibereum terpaksa pupus. Bukan karena tidak punya uang tapi waktu jua yang memisahkan kita, nyampe gerbang udah jam 3 bos. Heu’…
Dua botol yang sangat hijau menemani kita ditengah hujan dan udara dingin yang menggigit, terpaksa kita minum diwarung BU lee,
“Anjiing ni Bayu, ngajak aja tapi pura-pura tasnya ketinggalan”, ujar Friant
“yaudahlah, mang doi mah tukang obat, ngomong doing”, kata saya
“mendingan kita ke pulau tidung tapi rame-rame, bosen gw laki-laki mulu”,gagas cobre.
Percakapan hangat ini membuat kita terlarut hingga pukul enam sore, tapi memang diselingi dengan belanja topi lucu buat Friant , celana bermotif batik buat ical imut. Dan gorengan daun bayam yang dibeli cobre.
Tapi kemana buron?
ternyata dia tidur pulas dibelakang warung Bu Le. Mungkin dia lelah kali abis ditilang polisi. Kita pun pulang dengan riang dan sampai kampus sekitar jam 09.30 P.M. (Ssstt, ban edo bocor di kejaksaan).
Hahahahaha keep going LIMBAT.